Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) resmi menyepakati Provinsi Lampung sebagai lokasi National Cassava Center atau Pusat Singkong Nasional, dengan pusat kegiatan di Universitas Lampung (Unila).
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan Rencana Pengembangan Cassava Center di Unila yang diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI, bersama Pemerintah Provinsi Lampung dan mitra program, Selasa (27/1).
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan, National Cassava Center merupakan program inisiatif Bappenas yang bekerja sama dengan Sungai Budi Foundation, dengan fokus pada riset dan pengembangan singkong untuk meningkatkan produktivitas petani di Lampung.
“Telah disepakati bahwa Lampung akan menjadi National Cassava Center. Ini adalah program Bappenas bersama Sungai Budi Foundation untuk meriset cassava kita agar produktivitasnya meningkat dan bisa mengejar ketertinggalan dari Thailand dan Vietnam,” ujar Gubernur Mirza.
Ia menjelaskan, salah satu sasaran utama program tersebut adalah pengembangan bibit singkong unggul dengan kualitas dan kandungan aci yang lebih tinggi, sehingga hasil produksi petani dapat meningkat.
“Bibit yang dihasilkan diharapkan memiliki kadar aci yang banyak dan berkualitas, sehingga penghasilan petani kita bisa meningkat,” jelas dia.
Selain riset bibit, Cassava Center juga akan melibatkan peneliti, profesor, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Keterlibatan lintas universitas ini ditujukan untuk mempercepat pengembangan teknologi dan inovasi singkong nasional.
Gubernur Mirza menyebutkan, pusat kegiatan Cassava Center akan berlokasi di Universitas Lampung, dengan rencana pengembangan laboratorium pendukung, salah satunya di kawasan Kota Baru.
“Bangunannya memang akan segera berjalan, tapi programnya akan lebih dulu dilaksanakan dalam waktu dekat dan bisa menggunakan fasilitas di Unila,” kata dia.
Lebih lanjut, Gubernur Mirza menyampaikan bahwa pengembangan Cassava Center diarahkan untuk membangun sistem produksi singkong dari hulu ke hilir, mulai dari peningkatan produktivitas petani hingga efisiensi industri tapioka.
“Harapannya produktivitas petani meningkat, penghasilannya naik, kadar aci yang diterima pabrik lebih banyak, sehingga harga tapioka kita bisa bersaing dengan negara-negara lain. Intinya, kita ingin tapioka Lampung kompetitif dengan Thailand dan Vietnam,” tutup dia.
(Rls)













