BANDAR LAMPUNG,– Di tengah khidmatnya peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026, terselip sebuah pesan yang lebih dari sekadar seremoni. Dari Sai Bumi Ruwa Jurai, sebuah “alarm” kesadaran digaungkan—pengingat bahwa masa depan tidak menunggu, dan pendidikan adalah kunci untuk tidak tertinggal.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP., MH, menyampaikan bahwa Hardiknas tahun ini harus dimaknai sebagai titik refleksi sekaligus titik balik.
Bukan hanya perayaan, tetapi momentum untuk menakar sejauh mana langkah pendidikan di Lampung bergerak menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Baginya, pendidikan bukan sekadar rutinitas belajar di ruang kelas atau angka-angka di atas rapor. Lebih dari itu, pendidikan adalah fondasi peradaban, tempat karakter ditempa, mimpi dipupuk, dan masa depan dirancang.
“Pendidikan Lampung harus bangkit. Jika tidak, kita berisiko tertinggal dari daerah lain yang telah melangkah lebih cepat,” ujarnya, dengan nada tegas namun sarat kepedulian.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Thomas menekankan pentingnya transformasi cara pandang. Sekolah, menurutnya, harus menjadi ruang hidup yang dinamis,laboratorium gagasan, tempat lahirnya inovasi, serta ruang aman bagi generasi muda untuk tumbuh dengan keberanian dan integritas.
Peran guru pun kian strategis. Bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing yang menyalakan semangat belajar, menanamkan nilai, dan membuka cakrawala berpikir peserta didik.
Sejalan dengan tema nasional, “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran.
Pendidikan, katanya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau sekolah, tetapi kerja bersama orang tua, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat luas.
“Jangan biarkan Hardiknas berlalu sebagai seremoni tahunan. Jadikan ini momen untuk berbenah, memperkuat komitmen, dan bangkit bersama,” tegasnya.
Pesan ini menjadi harapan yang dititipkan kepada generasi muda Lampung bahwa mereka bukan sekadar penonton dalam perjalanan bangsa, melainkan pelaku utama yang akan menentukan arah masa depan.
Dari Lampung, semangat itu tumbuh: bahwa Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan dengan pendidikan sebagai jalan utamanya.(Rls)

















